Selasa, 04 November 2014



Judul               : IF
Pengarang       : Evy Ervianti
Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun              : Oktober 2009, Cetakan II 2010

Resensi
            Novel karya Evy Ervianti dengan tebal 240 halaman ini bertemakan perjalanan cinta. Novel ini didedikasikan pada mereka yang mengabdikan diri sepenuhnya pada dunia kempo. Kempo adalah seni bela diri dengan permainan tangan. Pengarang adalah dosen di FK Unair dan suka mengajar dibidang keahliannya: Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Hal ini mempengaruhi cerita ini sehingga tokoh-tokohnya begitu erat dengan profesi dokter dan kempo.
 Novel ini dibuat dengan latar belakang ketertarikannya pada dunia kempo yang bermula ketika ia harus memilih ekskul saat menjadi maba (mahasiswa baru) dan bercita-cita ingin membuat cerita berlatar belakang olahraga itu. Tujuan dari pembuatan novel ini untuk mewujudkan cita-citanya dan memperkenalkan bela diri kempo kepada para pembaca. Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju. Penulis berperan sebagai orang ketiga serba tahu.
Novel ini bercerita mengenai perjalanan cinta seorang dokter muda yang memiliki kecintaan pada dunia kempo, ia bernama Kika. Sebagai seorang kenshi (sebutan untuk penggelut seni bela diri kempo) Kika menjunjung filosofinya yang agung “Perangilah Dirimu Sendiri Sebelum Memerangi Orang Lain serta Kasih Sayang Tanpa Kekuatan Adalah Kelemahan, Kekuatan Tanpa Kasih Sayang Adalah Kezaliman”. Kika jatuh hati pada seorang cowok yang sering ia lihat pada Jum’at sore di toko buku, ia menyebut cowok tersebut sebagai obsesinya. Ia ingin sekali berkenalan dengan cowok tersebut.
Ternyata Tuhan mengabulkan keinginannya. Kika bisa berkenalan dengan cowok tersebut, ia bernama Widhi. Widhi adalah dokter spesialis muda, keponakan dosen Kika. Cinta bersemi di antara mereka ketika keduanya memperoleh kesempatan mengikuti rombongan dokter yang akan mengikuti seminar di Thailand.
Mereka berdua sangat cocok. Keduanya menggeluti hobi yang sama, yaitu olahraga kempo. Namun cinta mereka terhalang dua hal yang begitu besar. Kika telah dua tahun dijodohkan oleh tantenya dengan Ari, yang ternyata juga mengenal Widhi. Sementara Whidi akan melangsungkan pernikahan dengan Lena. Sebenarnya Whidi ingin sekali menikah dengan Kika, dengan syarat Kika mau meninggalkan Ari.
Menyikapi hal tersebut Kika merelakan Whidi untuk Lena, karena ia berfikir kalau ia mempertahankan Whidi ia akan menghancurkan hati seorang wanita. Hubungannya dengan Ari putus, karena ia menolak lamaran Ari. Whidi sudah menikahi Lena. Namun, kesedihannya tak berlangsung lama. Kika menemukan sebuah cinta yang dewasa, cinta dari seseorang yang telah lama menunggunya, cinta tersebut adalah Firman.
Melalui novel ini pengarang mengajak kita untuk berkorban dan memikirkan orang lain. Amanat dari novel ini adalah manfaatkanlah kesempatan yang ada karena kesempatan kedua tak selamanya ada. Jujurlah mengenai segala hal, kejujuran akan berbuah kebahagiaan. Berhati-hatilah dalam bertindak dan mengambil keputusan.
Cerita dalam novel ini yang benar-benar fiksi. Melalui novel ini kita dapat menambah pengetahuan mengenai kempo. Kehebatan pengarang dalam membuat akhir cerita yang indah melalui alur percintaan yang sulit untuk ditebak patut diacungi jempol. Cerita dalam novel ini tak khayal membuat mata berkaca-kaca bahkan meneteskan air mata. Namun ceritanya kurang berwarna, sedikit membosankan karena hampir semua tokohnya berhubungan dengan kempo dan kedokteran. Jika pengarang memasukkan tokoh yang berbeda, ceritanya lebih berwarna dan konfliknya lebih memikat.
 Cover dan kertas novel ini kurang menarik. Bahasa yang digunakan mudah dimengerti. Namun, beberapa istilah yang berhubungan dengan kempo tidak dijelaskan. Terdapat kalimat yang diulang-ulang. Meskipun demikian cerita ini tetap mimikat dan membuat terkesan pada akhirnya.




           
Judul Film       : Taare Zameen Par
Sutradara         : Aamir Khan
Penulis             : Amole Gupte
Pemeran          : Aamir Khan, Darsheel Safary, Tanay Cheda,
Sachet Engineer, Tisca Chopra, dan Vipin Sharman
Produksi          : Aamir Khan Production
Tahun              : 2007
Jenis Film        : Drama

Resensi
Taare Zameen Par adalah film India tahun 2007 merupakan film bertemakan pendidikan. Bahasa yang digunakan mudah dimengerti dan mengajarkan moral yang baik. Film ini dibuat dengan latar belakang kecintaan penulis (Amole Gupte) pada dunia anak-anak yang muncul setelah kedekatannya selama hampir 7 tahun dengan anak-anak. Film ini bertujuan untuk meningkatkan kepekaan kita terhadap anak-anak, penulis berperan sebagai orang ketiga serba tahu. Versi luar judul film ini adalah Like Stars on Earth.  
Alur cerita film ini adalah alur campur, namun cenderung menggunakan alur maju sehingga mudah dimengerti. Alur ini berkisah mengenai seorang anak yang bernama Ikshaan Awasthi (Darsheel Safary). Ia duduk di kelas 3 SD, nilainya selalu jelek dan sulit mengikuti pelajaran. Ia mempunyai kesulitan mengenai tulisan. Orang tuanya memperlakukannya seperti anak normal pada umumnya. Mereka sangat menyayangi Ikhsaan, terutama Ibunya (Tisca Chopra)
Mereka ingin ia tumbuh menjadi seperti abangnya (Sachet Engineer) yang pandai dan berprestasi, meraka tidak mengetahui kesulitan yang dialami Ikhsaan. Kesulitan dalam berbagai pelajaran membuat ia menjadi bahan ejekan teman-teman sekelasnya, bahkan gurunya juga ikut mengejeknya. Ikhsaan lebih suka bermain dan berimajinasi. Imajinasinya dituangkan melalui gambar, dari melukis di kertas sampai di tembok kamarnya.
Ayah Ikhsaan (Vipin Sharman) memindahkan Ikhsaan ke sekolah dengan program asrama. Pada awal ia berada di sekolah itu, ia terus menangis dan murung. Para guru di sekolah tersebut memperlakukannya lebih keras, dari sekolah sebelumnya. Hal ini membuatnya semakin terpukul, ia hanya bisa menangis dan memberontak dalam diam, bahkan hobi melukisnya pun redup.
Sampai seorang guru baru masuk untuk mengajar kesenian yang bernama Ram Shankar Nikumb (Aamir Khan), ia mampu membuat suasana pembelajaran di kelas Ikhsaan menjadi lebih menyenangkan. Ia lebih mengutamakan kondisi siswanya dalam belajar. Ram Shankar mengajar dengan lebih mendekatkan diri pada anak didiknya. Saat Ram Shankar menyuruh para siswa untuk melukiskan imajinasi yang mereka miliki, Ikhsaan masih bertahan dalam diamnya dan tidak melakukan apa pun. Setelah bertanya pada teman Ikhsaan, Rajan Damodaran (Tanay Cheda) dan melihat buku tugas Ikhsaan, ia terkejut karena melihat Ikhsaan menulis dengan kata yang dibalik. Hal ini membuat Ram Shankar memutuskan pergi ke rumah keluarga Ikhsaan.
Saat menemui keluarga Ikhsaan, Ram Shankar memberitahu mereka bahwa Ikhsaan mengalami dyslexia. Kesulitan dalam membaca dan menulis. Ram Shankar melihat lukisan yang dibuat Ikhsaan di tembok kamarnya, dari situ ia menyadari bahwa Ikhsaan memiliki  kemampuan melukis dan berimajinasi yang hebat. Ram Shankar pun  menjelaskan kemampuan dan bakat yang dimiliki Ikhsaan kepada keluarga Ikhsaan.
            Setelah itu Ram Shankar memutuskan untuk membantu Ikhsaan mengatasi kesulitannya dalam belajar dan memperlihatkan kemampuannya. Dalam pelajaran ia membantu Ikhsaan untuk mengajari  angka dan huruf. Ia menggunakan cara-cara yang menarik dan menyenangkan, di antaranya adalah dengan menggunakan kotak berisi pasir untuk menulis huruf dan menggunakan papan yang berisi kotak-kotak untuk menulis angka. Kesabaran dan ketekunan Ram Shankar untuk membantu Ikhsaan mengatasi kesulitannya dalam belajar berbuah manis. Ram Shankar mengadakan lomba melukis untuk seluruh kalangan dari yang muda sampai yang tua, yang bertujuan untuk memperlihatkan kemampuan Ikhsaan dalam menggambarkan imajinasinya.
            Film ini diakhiri dengan keharuan ketika Ikhsaan menjadi bintang dalam perlombaan melukis tersebut. Ia mampu mengalahkan lukisan yang dibuat oleh Ram Shankar, bakatnya diakui oleh semua orang. Ketika diumumkan kemenangannya ia merasa malu untuk maju ke panggung, keberaniannya muncul ketika melihat wajah Ram Shankar. Tepuk tangan para hadirin mengiringi perjalanannya menuju panggung, suasana menjadi semakin haru setelah ia menerima penghargaan dan ia berlari menuju Ram Shankar dengan air mata kebahagiaan. Keluarga Ikhsaan pun bangga kepada Ikhsaan dan mengetahui bakat yang ada pada dirinya.
            Amanat yang terkandung dalam film ini sangat bermanfaat bagi para penontonnya, pengarang mengajarkan kepada kita untuk menjadi diri sendiri. Manfaatkan dan kembangkanlah bakat yang ada di dalam diri kita. Bagi para orang tua penulis menghimbau agar orang tua mengetahui perkembangan anaknya dan tidak memaksakan kehendaknya kepada anak-anaknya, jangan menjadikan kesuksesan dan kedudukan menjadi patokan, biarlah mereka berkembang sesuai bakat mereka karena setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Bagi para pendidik penulis menghimbau agar para pendidik dapat memahami kondisi peserta didiknya dengan baik.
             Film Taare Zameen Par ini merupakan film yang layak ditonton untuk semua kalangan. Keterampilan berbahasa penulis dan cara para tokoh membawakan perannya membuat penonton dapat memahami cerita yang terdapat pada film, penonton dapat terbawa pada alur dan emosi yang disampaikan. Setiap tokoh memiliki karakter yang begitu kuat. Cover film ini menarik. Melalui film ini tergambar jelas bagaimana penulis ingin menegaskan bahwa setiap anak memiliki keistimewaan.